Takdir

Masalah qadha’ dan qadar (takdir) masih merupakan salah satu masalah yang terpenting yang mengundang perdebatan yang luas. Hal itu disebabkan oleh pemahaman yang keliru tentang takdir atau memang didasarkan niat yang buruk. Untuk lebih menjelaskan pemahaman ini, kita coba membahas topik ini secara bersama-sama.

Pengertian Takdir

Qadha’ dan qadar (takdir) menurut pandangan Islam adalah terminologi tentang kemunculan yang pasti bagi para nabi dengan kehendak Allah (qadha’). Kemunculan ini yang memuat ukuran dan ciri khasnya bersumber dari kehendak Allah juga (qadar).

Penjelasannya, bahwasanya alam berdiri berdasarkan perhitungan yang teliti, dan setiap sesuatunya mempunyai ukuran dan batasannya serta kedudukannya di dalam lembaran wujud, yang diperolehnya dari sebabsebabnya dan hukum kausalitas. Setiap sebab berpindah pengaruhnya bersama zatnya pada akibat.

Oleh karena itu, segala sesuatu yang ada berupa materi semuanya dalam keadaan bergerak dan berpindah, yang semuanya juga memiliki persiapan menuju kesempurnaan. Dan sesuai sifat hal-hal yang mempengaruhi, maka sesungguhnya akibat dari semua hal tersebut berbeda-beda, sebagiannya sirna dan sebagiannya yang lain bertambah kecepatannya.

Yakni, akibat dari sesuatu itu bukanlah takdir. Sebab, `illah (sebab) adalah dasar (pokok) di dalam akhir suatu akibat. Dan selama segala maujud material itu memiliki sebab (`illah) yang bermacam-macam, demikian juga takdirnya akan bermacam-macam pula. Dengan kata lain, sesungguhnya takdir itu adalah pengganti.

Perubahan Takdir

Kita telah mengatakan bahwa segala maujud materi disebabkan oleh adanya sebab yang bermacam-macam. Jadi, mungkin sekali terjadinya perubahan pada akibat itu. Misalnya, orang sakit pada akhirnya memiliki beberapa kemungkinan. Dia akan sembuh setelah berobat kepada seorang dokter yang benar-benar ahli (spesialis) dan melaksanakan semua anjuran dokter tersebut. Atau, sebaliknya sakitnya akan bertambah lama disebabkan oleh berobatnya dia kepada seorang dokter yang bukan ahli, atau dia tidak memperdulikan anjuran-anjuran dokter tersebut, yang berakibat penyakitnya akan bertambah gawat dan membawa pada kematiannya.

Sesungguhnya semua keadaan ini sesuai dengan qadha’ dan qada (takdir). Sesungguhnya Allah menciptakan dokter, obat, dan kuman, dan Dia menyimpan karakteristik masing-masingnya. Jadi, jika terealisasi apa saja dari ketiga hal tersebut pada seseorang, maka itu berasal dari kehendak Allah (qadha’) demikian juga karakteristiknya (qadar).

Oleh karena itu, mungkin saja bagi seseorang untuk mengubah takdirnya. Akan tetapi, dalam semua keadaan dia tetap tidak dapat terlepas dari takdir (qadha’ dan qadar). Yakni, perubahan takdir tetap masih dalam ruang lingkup takdir itu sendiri, dan dia tidak dapat menentang hukum kausalitas.

Wassalam…

Iklan

2 Tanggapan

  1. Pokokna pertamaaaaaaaaaaaaaaaaxxxxx heula
    kommeng belakangannn

    Tah sebaiknya jangan dimoderasi biarrrrr tokcer
    jangan takut dengan spam
    da moal jauh ti takdir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: